Pages

Sabtu, 04 Juni 2011

[CERPEN] Surat Kecil Untuk TUHAN


Jennie, seorang anak kecil berumur 5 tahun yang tinggal dipinggiran kota di salah satu kawasan perumahan kumuh. Jennie tinggal bersama dengan kedua orang tuanya dan adiknya yang masih berumur 2 tahun, Jessie.
Rumah Jennie bisa dibilang lebih parah dibandingkan rumah-rumah lainnya. Atap rumbai, tembok kayu yang sudah dimakan rayap sehingga bolong-bolong, tanah yang becek menjadi tempat pijakan mereka. Mereka tidur hanya dengan beralaskan rumbai-rumbai saja tanpa selimut. Rumah mereka juga tidak memiliki pintu. Sangat tidak layak untuk ditinggali.
Jennie bekerja membantu ibunya mengumpulkan sampah. Ayahnya mencari kayu bakar dihutan untuk dijual. Sedangkan Jessie yang masih bayi hanya bisa pasrah digendong ibunya yang lelah mengumpulkan sampah.
Penghasilan merekapun bisa dikatakan sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Terkadang mereka memakan makanan yang mereka temukan sewaktu mengumpulkan sampah. Makanan yang sama sekali tidak layak dimakan. Terkadang juga mereka meminta bekas makanan orang di restoran-restoran.
Namun Jennie dan keluarganya tidak pernah mengeluh sama sekali. Mereka malah bersyukur dengan keadaan mereka yang sekarang. Mereka yakin, Tuhan pasti sedang menyiapkan mereka rumah yang lebih layak dan keadaan yang lebih baik.
***
Musim hujan telah tiba. Jika musim hujan, rumah Jennie selalu saja becek. Mereka selalu basah karena atap rumbai-rumbai yang bocor. Jika hujan, mereka menumpang dirumah tetangga yang sama sekali tidak keberatan jika mereka menumpang.
Tiap malam ketika keluarganya telah tertidur lelap, Jennie terbangun dan berdoa kepada Tuhan sambil menangis. Jennie mengadu pada Tuhan tentang keadaannya yang sekarang. Dia selalu curhat tentang perasaannya. Meskipun Tuhan sebenarnya tahu tentang keadaan Jennie tanpa perlu Jennie beritahu.
***
Suatu malam, hujan deras kembali mengguyur pemukiman kumuh tersebut. Keluarga Jennie kembali menumpang dirumah tetangga mereka.
Malam itu, adik Jennie tidak berhenti menangis. Tangisannya malah semakin kencang dan keras. Membuat telinga menjadi pekak.
Rupanya, adik Jennie sakit. Adiknya demam tinggi. Mereka ingin membeli obat namun tidak mempunyai uang. Mereka juga tidak ingin membuat tetangga mereka repot untuk yang kesekian kalinya.
Sudah berhari-hari adik Jennie sakit. Kondisi tubuhnya menurun drastis. Tetangga mereka menawarkan bantuan untuk membeli obat dan memeriksakan adik Jennie ke rumah sakit, namun mereka menolak. Mereka sudah cukup membuat repot.
Tidak lama kemudian, Jessie meninggal. Ibu dan ayah Jennie sangat sedih. Begitu pula dengan Jennie. Dan yang lebih menyedihkan lagi, mereka tidak bisa menguburkan Jessie dengan layak. Mereka ingin menguburkannya di TPU, namun mereka tidak mempunyai biaya untuk pergi kesana. Apalagi jarak TPU sangat jauh dari pemukiman tempat mereka tinggal. Sungguh ironis dan tragis melihat keadaan mereka.
Jika mereka menguburkannya di belakang rumah mereka, ketika rumah mereka di gusur, kubur Jessie pun akan ikut tergusur. Mereka tidak ingin hal itu terjadi. Dengan terpaksa mereka menguburkan jasad Jessie di bawah kolong jembatan yang sepi dan jauh dari keramaian.
***
Hari demi hari berlalu. Kepahitan dan kesedihan sama sekali tidak pergi dari keluarga Jennie, malah semakin bertambah.
Sekarang, ibu Jennie terkena penyakit. Tidak diketahui penyakit apa yang menyerang ibu Jennie. Jennie semakin sedih. Jennie pergi ke suatu bukit yang sangat tinggi. Jennie meminjam pulpen dan kertas dari seseorang yang kebetulan berada disekitar bukit tersebut. Jennie menulis sebuah surat.
Ya Tuhan, ini aku Jennie. Apa Tuhan mengenalku? Tuhan tolong bantu keluarga Jennie. Keluarga Jennie sangat susah Tuhan. Ibu sakit dan ayah tidak memiliki uang untuk membeli obat untuk ibu. Jasad Jessie juga dikuburkan secara tidak layak. sampaikan maaf kami pada Jessie ya Tuhan. Tuhan, sekarang juga musim hujan. Kami selalu kedinginan dan tidak bisa tidur sebab kami tidak memiliki kasur. Kami juga kekurangan makanan. Sudah 1 minggu kami tidak makan. Kami juga hanya minum air sungai. Tuhan, kirimkanlah kami makanan dan selimut juga kasur ke rumah Jennie. Jennie tinggal disalah satu perumahan kumuh dipinggir kota. Satu-satunya perumahan kumuh yang ada dipinggir kota sehingga Tuhan mudah mencarinya. Ya Tuhan, tolong keluarga Jennie yah. Terimakasih ya Tuhan sudah mau membaca surat Jennie.
Begitulah kata-kata Jennie ditulisannya. Meskipun masih 5 tahun, namun ayahnya telah mengajarkannya cara membaca dan menulis.
Jennie melipat surat tersebut menjadi bentuk pesawat. Jennie lalu melemparkannya ke atas langit. Berharap surat itu terbang kepada Tuhan agar Tuhan dapat membaca surat kecilnya itu.
***
Keesokan harinya, datanglah seorang pemuda ke rumah Jennie. Dia menawarkan agar keluarga Jennie tinggal dirumahnya. Pemuda tersebut adalah seorang pebisnis muda yang sangat sukses. Awalnya keluarga Jennie menolak. Namun, setelah dipaksa berkali-kali, keluarga Jennie mau menerima tawaran pemuda itu.
Pemuda itu membiayai semua biaya perawatan ibu Jennie dirumah sakit. Mengerjakan ayah Jennie diperusahaannya, menyekolahkan Jennie, dan memindahkan jasad Jessie untuk dikuburkan dengan layak.
Malamnya Jennie berdoa kepada Tuhan. Dia berterima kasih karena Tuhan telah mengirimkannya pemuda tersebut untuk menolongnya dan keluarganya, Jennie benar-benar besyukur.
Pemuda itu sebenarnya membaca surat yan kebetulan jatuh di hadapannya. Surat itu dilipat berbentuk pesawat. Ketika pemuda tersebut membacanya, ia terharu dan memutuskan untuk pergi ke alamat yang dicantumkan didalam surat itu untuk membantu anak yang bernama Jennie. Pemuda itu juga bersyukur karena Jennie telah mengajarkannya arti hidup dalam surat kecilnya untuk Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar